Sumber: Harian Pagi Timor Express, 6 Juni 2009
Monday, June 29, 2009
PERSENTASE PENDERITA HIV/AIDS DI NTT MENURUT PROFESI
Sumber: Harian Pagi Timor Express, 6 Juni 2009
JUMLAH PENDERITA HIV/AIDS DI NTT
Sunday, May 31, 2009
Musim Gelap: Ada Apa Dengan PLN NTT
PEMADAMAN listrik disejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama + 2 tahun terakhir ini membuat banyak orang marah. Ini reaksi yang wajar, mengingat tanpa listrik kehidupan modern boleh dikatakan lumpuh. Lampu padam, lemari es mogok, pompa air berhenti, televisi mati, dan penyejuk ruangan tak berfungsi. Industri terganggu dan argo kerugian pun mulai berputar. Selain itu, dunia bisnis di NTT semakin jauh tertinggal karena investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di NTT. Persoalannya tinggal: kemarahan itu diarahkan kepada siapa?Untuk jangka pendek yang sifatnya mendesak: Pemerintah Kota dan Kabupaten Kupang serta Pemda propinsi NTT serta DPRD terkait, perlu segera duduk bersama dan menjajaki bersama PLN. Adanya dukungan Dana, mekanisme, kebijakan dan kesepakatan (MoU) untuk pengadaan Mesin Pembangkit listrik baru (bukan dengan sewa mesin baru). Apakah dengan sistem penyertaan modal investasi dan ‘negosiasi’ lainnya yang relevan (misalnya dengan pemanfaatan dana SILPA?). Kesungguhan dan ketegasan Pemda untuk terlibat dalam hal ini, sangat ditunggu dan menjadi idaman serta doa seluruh warga. Ini bukti komitmen kuat terhadap perlindungan rakyat, hal lainnya adalah pengadaan mesin baru tidak jauh beda dengan membangun jalan dan jembatan misalnya, tinggal political will yang “dimainkan” oleh Pemerintah, Wakil Rakyat dan PLN sendiri.
Untuk jangka menengah yang penting: Pemda Propinsi NTT perlu mengawal secara tegas dan menjelaskan kepada masyarakat luas terkait pembangunan PLTU Bolok yang digambarkan dimedia sebagai skenario jalan keluar terhadap ‘kisruh’ pemadaman listrik selama ini, hal ini penting agar pasokan setrum dapat segera teratasi, dan untuk jangka panjang sudah saatnya Pemerintah Daerah dan DPRD turun tangan dan memasukan urusan energi sebagai bagian dalam perencanaan dan pembangunan daerah.
Persoalan listrik tidak hanya menjadi persoalan di NTT semata, tetapi juga menjadi persoalan nasional. Pilihan memang bukan pada PLN, melainkan pada pemerintahan pasca SBY-JK, apakah SBY Berbudi, Mega Pro atau JK Win. Pilihan lainnya adalah membiarkan keadaan seperti sekarang dan menjalankan Pemilihan Presiden dalam suasana gelap-gulita. Saat itu, kebanyakan orang yang antre mencontreng sedang marah dan mendambakan perubahan.
Tuesday, April 21, 2009
QUO VADIS ORANG MISKIN
Oleh Wilson M.A Therik, S.E.,M.Si
Kandidat Doktor Studi Pembangunan UKSW Salatiga,Anggota Forum Academia NTT
KETIKA NTT di dinobatkan sebagai salah satu dari beberapa propinsi termiskin di Indonesia dan hampir di setiap rapat, seminar/diskusi nasional tentang kemiskinan, Propinsi NTT selalu disebut-sebut, bukannya membuat kita prihatin dan proaktif mengantisipasi, tetapi kita menjadi 'reaktif', lalu menyalahkan data statistiklah, mencurigai lembaga survailah, atau bahkan memperdebatkan apa itu 'definisi dan kriteria miskin?' Bukankah miskin atau tidak miskin harus ditanyakan pada rakyat, apakah ia merasa miskin? Kalau masyarakat NTT merasa dia tidak miskin, dia merasa biasa-biasa saja, mengapa kita kategorikan ia miskin? Maka berdebatlah kita tentang kriteria dan sebagainya.
Rupanya yang dipermasalahkan bukanlah kata miskin atau korup, tetapi masalah semantik, kata depan 'ter' itulah masalahnya. Kita pun punya alibi, bukankah selama ini pemerintah pusat dan daerah telah menempuh pelbagai upaya untuk mengatasi kemiskinan, lewat pelbagai program dan proyek, bahkan akhir-akhir ini diluncurkan program "Anggur Merah?" Benar, tetapi kalau kemiskinan semakin meningkat, apa jawabmu? Jawabnya sederhana: "Kalau kemiskinan rakyat tidak mampu diatasi, bahkan meningkat, itu berarti pemerintah gagal membangun, gagal dalam strategi dan kebijakan pembangunan."
Kita perlu belajar dari seorang Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian Tahun 2006, pejuang melawan kemiskinan dan mendirikan Bank Untuk Orang Miskin (Grameen Bank) di Bangladesh, yang berhasil membongkar kepalsuan-kepalsuan yang tersembunyi di balik institusi-institusi seperti pendidikan, pemerintahan, negara, perbankan, bahkan agama dan kebudayaan, yang selama ini 'membiarkan' kemiskinan itu tidak teratasi.
Atau kita harus juga belajar dari tulisan Graham Hancock tentang "Dewa-dewa Pencipta Kemiskinan" (Lord of Poverty, the Power, Prestige and Corruption of the International Aid Bussines), agar kita sadar dan waspada, bahwa ada banyak 'dewa-dewa pencipta kemiskinan' di sekitar kita. Kita perlu berbesar hati, berlapang dada, mengakui 'dosa' kita bersama lalu proaktif mencari solusi, bukan reaktif dan menghakimi sesama, tetapi dimulai dengan diri sendiri.
Tsunami Keuangan Global dan NTT
Perkembangan ekonomi dunia semakin suram, laju pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 diperkirakan hanya 0.5%. di Amerika, Eropa dan negara-negara maju, PHK di sektor industri semakin deras. Di Asia, Singapura mengembalikan 50% tenaga kerja asal Malaysia dan Malaysia segera memulangkan ratusan ribu TKI ke Indonesia.
Di Indonesia, laju pertumbuhan diperkirakan hanya 3,5% bahkan bisa melorot, pertumbuhan ekspor hanya 2,5%, suasana kerja di pelabuhan seperti Tanjung Priok menurun, PHK di sektor industri tak terhindarkan, menunjukkan gambaran suram yang berdampak disegala sektor kehidupan. Namun yang menggelisahkan adalah 'kemiskinan diperkirakan akan bertambah', dan dengan laju inflasi yang tinggi, daya beli masyarakat akan menurun. Jika daya beli menurun, lalu siapa yang membeli produk-produk yang dihasilkan?
Tanpa terasa 'tsunami ekonomi' dan 'tsunami kemiskinan' telah melanda Indonesia, dan apabila tidak ada strategi dan tindakan antisipasi yang jitu dan tepat, korban akan semakin meningkat.
Pemerintah pusat sementara menyusun antisipasi dalam bentuk 'stimulasi ekonomi' (+ 70 triliun) program padat karya, program pembangunan infrastruktur, kredit usaha rakyat, dan sebagainya. Pemda Jawa Timur, Gorontalo dan sebagainya saat ini juga sibuk mempersiapkan jurus-jurus aksi antisipasi inovatif, sesuai kondisi setempat.
Lalu bagaimana kondisi dan kesiapan kita di NTT? Tidak ada yang tahu, tetapi tampaknya belum terlihat tanda-tanda bahwa pemda propinsi dan kabupaten saat ini dalam kondisi was-was, atau sibuk dalam mempersiapkan rancangan program antisipasi inovatif membunyikan sirene siaga bagi seluruh jajaran pemeirntahan, maupun masyarakat.
Proaktif dan Strategi Antisipasi
Berhadapan dengan gelombang tsunami ekonomi yang mengakibatkan pengangguran yang semakin menjadi-jadi, daya beli yang berangsur menurun, serta jeritan tangisan masyarakat yang miskin semakin melengking dan menyayat, maka tidak hanya di NTT, di seluruh dunia orang berpaling pada kebijakan pemerintah. Roda perekonomian NTT apalagi dari dulu tergantung APBN/APBD.
Di Kota Kupang jelas terlihat, pada bulan-bulan pencairan anggaran proyek hingga berakhir proyek, lalulintas mobil-mobil dari 'bos-bos' malang melintang, restoran, bar dan karaoke tumpah ruah, tetapi waktu di antara berakhirnya proyek dan menanti proyek baru, suasana berangsur sepi. Ya, anggaran pemerintah adalah juru selamat NTT sejak dulu kala. Lalu apa kira-kira kiat yang segera ditempuh?
a. Jangka Pendek/Segera
* Kommit dan pastikan agar pencarian anggaran tahun 2009 sesegera mungkin lebih cepat lebih baik, karena gerakan gelombang tsunami juga begitu cepat. Bagi pemda kabupaten/kota yang cepat merealisasi, diberikan penghargaan (reward). Bagi yang lambat, beri sanksi (punishment) berupa pengurangan alokasi anggaran, teguran, dan sebagainya.
* Berani memutuskan agar dalam tahun 2009 tidak ada pembelian mobil baru (kecuali untuk pelayanan publik tertentu), tidak pembangunan rumah dinas baru, anggaran perjalanan dinas dibatasi, kalau sudah terlanjur diusulkan, perhatikan agar segera direvisi, dan dialihkan pada kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
* Segera siapkan suatu pertemuan khusus dengan pemda kabupaten/kota se-NTT, yang difokuskan pada upaya, mendorong pemda kabupaten/kota se-NTT menyiapkan strategi 'terobosan inovatif' yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran 2009. Sosialisasikan dan publikasikan pada masyarakat, agar publik tahu, mana bupati/walikota yang biasa-biasa saja/menyontek pola kerja tahun lalu, dan mana yang 'kreatif, inovatif dan proaktif' (mudah-mudahan masih ada budaya malu).
* Di awal perencanaan saja akan ketahuan pemda mana saja yang belanja publiknya rendah dan mana yang tinggi, mana yang persentase anggaran pendidikan dan kesehatannya tinggi atau rendah, mana 'pemimpin' mana yang sekedar 'kepala daerah'. Ajang kompetisi terbuka tersebut dapat pula diadakan antara Kepala Dinas terkait di tingkat propinsi, agar dapat merangsang kreativitas.
* Anggaran belanja adalah 'investasi' (government investment) karena itu chairman/bos yang profesional akan berpikir ekonomis, efisien dan efektif, tidak sebaliknya. Karena itu secara dini di awal tahun anggaran perlu dipersiapkan suatu model sinergi lintas program/proyek yang lazim disebut 'aliansi strategik'.
Aliansi strategik tersebut, bukan saja merupakan suatu upaya yang sekadar supaya kelihatan 'terkoordinasi'. Mengapa kondisi tersebut perlu didesain dan diawasi secara cermat sejak dini? Karena selama ini koordinasi sudah berjalan, tetapi sekedar kordinasi, atau lebih cocok dengan ungkapan 'koor sama-sama, tapi nasi sendiri-sendiri' (waktu perencanaan semua sektor berkoordinasi, waktu proyek jadi, masing-masing jalan sendiri).
* Akhirnya, semuanya kembali pada nurani sang pemimpin stop korupsi, jangan menari di atas penderitaan rakyat yang sementara terguling-guling di hempas gelombang tsunami.
b. Beberapa pemikiran 'sederhana' untuk direnungkan (alternatif ketiga).
Dalam kondisi ekonomi dunia yang tak menentu, krisis keuangan, krisis pangan, tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang meningkat, tidak ada jalan lain kecuali 'berubah' (atau mati?).
Ada begitu banyak konsep strategis seperti 're-interventing government, revitalisasi, reformasi, transformasi, dan lain-lain yang selama ini kita pidatokan sudah saatnya dipraktekkan. Berat memang, tetapi tidak ada jalan lain.
Dengan rendah hati, perkenankan saya menyodori beberapa pemikiran sederhana, khusus tentang petani dan kemiskinan, sebagai berikut:
Perubahan Paradigma
Pelurusan kembali (rebonding) paradigma kita terhadap beberapa isu/aspek strategis antara lain:
1. Kemiskinan: kita mestinya dapat mengubah paradigma yang melihat orang miskin (secara umum) sebagai orang pasif dan statis, lalu kita mulai dari 'apa yang tidak dimiliki si miskin', tetapi kita lebih menekankan pada 'apa yang dimiliki si miskin'. Si miskin, ternyata tangguh dan 'ahli' dalam dunia mereka. Ada potensi dalam diri dan lingkungan sekitar. Dari sana kita mulai.
Jika Anda ke Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang dan melihat dengan mata kepala sendiri pergulatan hidup keluarga yang hidup dengan masak air laut menjadi garam dan mencoba menghitung tentang biaya produksi, keuntungan dan belanja untuk hidup sehari-hari, kalkulator Anda akan macet, Anda akan bingung sendiri, bagaimana keluarga ini bisa hidup? Dan ternyata masih hidup. Mereka adalah 'ahli' di bidangnya, mereka adalah manager dari seperangkat aset di seputar dirinya dan lingkarannya (human and social capital), dari sana mestinya kita mulai.
2. Petani Miskin
Petani kecil di Jawa miskin antara lain karena lahan pertanian yang terbatas (rata-rata cuma 0,3 Ha per KK tani) atau penduduknya padat. Di NTT terbalik, tanah pertanian (dalam arti luas) cukup luas, namun penduduk jarang. Lahan sawah yang belum diusahakan sekitar 32.815 Ha dari potensi 262.407 Ha; potensi lahan kering fungsional 689.112 Ha.
Secara umum, terlihat bahwa ada ratusan ribu Ha, tanah yang dikategorikan 'tandus' atau padang rumput yang juga kering dan tandus, lalu karena kita terlanjur 'demam jagung' lalu dengan gampang mengatakan, potensi lahan kering banyak, tetapi sayangnya, tandus, kurang modallah, kurang teknologilah, dan banyak alasan lain. Itu benar, kalau pikiran dan fokus kita pada jagung tau beras saja.
Di Pulau Ambon, dapat dikatakan, 'hampir' tidak ada kebun jagung dan ubi kayu, dan tidak ada sawah, dan petani mengandalkan potensi tanaman keras yang potensial seperti cengkeh, pala dan aneka buah-buahan, di samping tanaman holtikultura sekadarnya. Saya tidak ingin berteori, saya hanya sekedar mengutip pengalaman seorang parubaya tentang masa lalunya sebagai berikut. Kalau saja, 5 tahun lalu beta tanam di tanah tandus sekitar desa, 2 Ha pohon kayu putih (eucalypus lecadendrom), sonde perlu bikin pagar, sonde cape cangkul tanah, kalau tabakar, sonde mati, maka hari ini beta bisa menghasilkan yang Rp 150.000 per hari, dengan menyuling 3 botol minyak kayu putih (cajuput oil). Kalau saja 15 tahun lalu beta su tanam 2 Ha pohon jati di tanah tandus yang terbuang itu, hari ini beta potong, beta jual lalu beta beli 10 motor ojek. Beta jadi juragan ojek terbesar di Kecamatan Kelapa Lima atau mangkali di Kota Kupang.
Tanah gundul menjadi hutan kayu putih atau jati, lingkungan hijau tercipta sekaligus dia menjadi 'boss'. Think globally, act locally, start now, or never .... *
Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Pos Kupang, 16 April 2009, silahkan klik pada judul di atas
Tuesday, April 07, 2009
JANGAN SALAH PILIH!
Gunakanlah hak pilih Anda dengan sebaik-baiknya pada 9 April 2009, pilihlah caleg yang BERKUALITAS bukan karena kolega, keluarga atau teman, tapi karena mereka mengetahui secara benar seluk-beluk masalah pembangunan di NTT dan juga punya pemahaman yang mendalam tentang adat istiadat dan budaya orang NTT.
Jangan pilih caleg yang bermental koruptif, jangan pilih caleg yang temperamental dan emosional, jangan pilih caleg yang tidak konsisten, jangan pilih caleg yang "muka baru" di Nusa Tenggara Timur, pilhlah caleg yang berani memerdekakan NTT dari korupsi dan kemiskinan menuju NTT yang sejahtera.
Jika salah memilih kita harus menunggu 5 Tahun lagi!...
Saturday, March 28, 2009
Pendeta Nyentrik Itu Telah Pergi
In Memoriam Pdt.(Emr). Gerzon Tom Therik, M.Th.,Ph.D
Senin, 23 Maret 2009 tepat jam 20.10 Wita di Ruang ICU RSUD Prof.Dr. W.Z. Johannes-Kupang, Pdt. Tom Therik alias om Tom, demikian biasa saya sapa, telah pergi untuk selama-lamanya karena serangan jantung koroner. Om Tom pergi meninggalkan tante Dee, istrinya dan 2 buah hati kesayangannya Hendrik Therik dan Lia Therik. Om Tom adalah tipe seorang pekerja keras yang suka lupa waktu untuk istirahat, suka bergaul dengan siapa saja, selalu berpenampilan nyentrik dan jarang memakai jas atau-pun dasi (kecuali saat Wisuda karena menjabat sebagai Rektor, selebihnya tidak pernah) demikian sebagian cerita tentang om Tom dari beberapa teman dekatnya, diantaranya Ir. Zet Malelak, M.Si; Ir. Andre I. Medah, M.P; dan Dus Ndaumanu, S.H (Camat Amfoang Timur, Kabupaten Kupang). Sementara itu, Pdt. Johanis Ratu, S.Th, salah satu mantan mahasiswa om Tom, menuturkan bahwa om Tom adalah Pendeta GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) yang tidak memegang jemaat, tetapi om Tom adalah seorang Pendeta yang dimiliki oleh banyak jemaat, entah itu di GMIT, di GKS, maupun saudara-saudara dari Buton, Bugis, Makasar dan Jawa yang mencari nafkah di daratan Timor dan Rote.
Pdt.Dr. John Campbell-Nelson (sahabat karib om Tom) dalam khotbahnya saat memimpin ibadah pemakaman pada Kamis, 26 Maret 2009 di Gedung Kebaktian GMIT Jemaat Bethel Oesapa Tengah menyebut om Tom sebagai Nabi Tom dengan banyak surat yang ia tinggalkan, surat sebagai seorang Pendeta yang eksentrik (tidak berada di pusat melainkan berada di pinggiran), surat sebagai seorang Rektor, surat sebagai seorang Antropolog, surat sebagai seorang Dosen, surat sebagai seorang Peneliti, surat sebagai seorang Seniman, surat sebagai seorang Petani, surat sebagai seorang Nelayan, surat sebagai seorang pekerja keras, surat sebagai seorang yang bebas dan masih banyak surat lainnya yang ia tinggalkan pada banyak orang, demikian sebagian dari khotbah Pdt.Dr. John Campbell-Nelson saat ibadah pemakaman.
Om Tom lahir di Atambua pada 6 April 1947 dari pasangan Zakarias Andreas Therik dan Louisa Constantia Therik-Saba. om Tom adalah anak ke-10 dari 10 bersaudara, yaitu: An Therik (Alm), Sol Therik (Alm), Welmince Medah-Therik, Os Therik (Alm). Eli Therik, As Therik, Yes Therik, Fritz Therik (Alm) dan Willem Therik.
om Tom menyelesaikan pendidikan dasar di SR Kristen 3 Atambua (1957-1962), SMP Kristen Atambua (1962-1965), SMA Katholik Surya Atambua (1965-1968), Sarjana Muda Teologi-Sekolah Tinggi Teologi INTIM Ujung Pandang (1969-1973), Sarjana Teologi- Sekolah Tinggi Teologi INTIM Ujung Pandang (1973-1974), Master (S2) Teologi-Board of Religious Studies, School of Divinity, The University of Sydney, Sydney, Australia (1980-1983) dan Doctor (S3) Antropologi-Departement of Anthropology, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, Canberra, Australia (1991-1995) dan diwisuda pada 1996 dibawah bimbingan Prof.Dr. James J. Fox.
Pada bulan Desember 1975, om Tom ditahbiskan sebagai Pendeta GMIT di Kupang dan ditempatkan sebagai Dosen di Akademi Teologi Kupang (kini Universitas Kristen Artha Wacana-UKAW Kupang). Pada 1976-1979 Om Tom dipercaya sebagai Pembantu Rektor II Akademi Teologi Kupang (ATK), selanjutnya sebagai Pembantu Rektor III ATK (1979-1983), Pembantu Rektor I ATK (1983-1985), Pembantu Rektor II UKAW (1985-1987), Pembantu Rektor I UKAW (1987-1990), Dekan (antar waktu) Fakultas Teologi UKAW (1990-1991), Kepala Pusat Penelitian dan Pengkajian Kawasan (Centre for Regional Studies), UKAW (1996-1998), Direktur Program Pascasarjana, Fakultas Teologi UKAW (1997-1998) dan Rektor UKAW (1998-2003).
Selain mengabdikan diri di UKAW Kupang, om Tom juga menjadi Dosen Tamu/Dosen Luar biasa beberapa perguruan tinggi, yakni: STFK Ledalero-Maumere untuk matakuliah Biblika Perjanjian Lama (Juni 1985), FKIP UKAW untuk matakuliah Teologia Perjanjian Lama (1985-1990), FH UKAW untuk matakuliah Sosiologi (1985-1990), Dosen Ilmu Sosial Dasar untuk MKDU di UKAW (1985-1990), Dosen Tamu pada Program Studi Agama dan Masyarakat-Program Pascasarjana UKSW Salatiga (Juli 1996), Dosen Pembimbing untuk Mahasiswa S3 STT dan SEAGST-Jakarta (Sejak 1996), Penatar P4 tingkat propinsi, bidang GBHN (Sejak 1987-1998).
Kegiatan penelitian yang dilakukan om Tom semasa hidupnya antara lain sebagai Koordinator Penelitian PMTAS-LIPI di NTT (1998), Short-term Consultant for SASD-AusAID, Jakarta (April 1998), Koordinator Penelitian Dampak Perda Nomor 8 Tahun 1974 bagi Hak Ulayat Tanah (1998), Koordinator Social Assesment COREMAP-LIPI di NTT (1997-2006), Editor, Series Paradigma, Artha Wacana Press-Center for Regional Studies UKAW (Sejak 1997), Konsultan Ahli pada Penelitian Profil Gender dan Peranan Wanita dalam Pembangunan di Kabupaten Kupang bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten Kupang (1997), Anggota Tim Peneliti Suku Terasing di Desa Para-bubu, Kecamatan, Paga, Kabupaten Sikka-NTT bekerjasama dengan Kanwil Departemen Sosial NTT (1997), Impact Analysis Specialist pada Flores Water Supply and Sanitation, Reconsturction and Development, Project, Maumere (1997), Human Resources Development Specialist pada Flores Water Supply and Sanitation, Reconsturction and Development, Project, Maumere (1996-1997), Koordinator Panitia Praktek Lapangan (ORPED, SKL dan CP) Fakultas Teologi UKAW (1996-1997), Koordinator dalam Panitia Pelaksana dan Tim Perumus Penataran-Lokakarya Proses Belajar Mengajar UKAW (1990), Koordinator Penelitian Ekonomi Lontar di Pulau Rote kerjasama UKAW, Texas of University dan Pemerintah Kabupaten Kupang (sejak 2000), Anggota Peneliti The SMERU Institute (1996-2007), anggota Editor Jurnal Antropologi Indonesia (Sejak 1996). Terakhir om Tom terlibat di Novanto Center sebagai Konsultan Ahli untuk penelitian potensi kelautan NTT terutama pengembangan spons laut yang akan diekspor ke luar negeri oleh Novanto Center, sebuah lembaga bisnis milik Drs. Setya Novanto yang baru saja diresmikan oleh Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya pada tanggal 14 Maret 2009. Selain aktifitas penelitian, om Tom juga kerap diundang sebagai narasumber pada seminar, konferensi, workshop di dalam maupun di luar negeri.
Beberapa karya ilmiah yang dihasilkan oleh om Tom, diantaranya adalah: Pernyataan Melalui Situasi-situasi, Skripsi S.Th – STT Intim, Ujung Pandang (1974), Old Testament Perspectives On “The Simple People” In The Context of People of West Timor. Tesis M.Th – The University of Sydney (1983), Wehali: The Four Cornerland: Cosmology and Traditions of a Timorese Ritual Center. Disertasi Ph.D – The Australian National University (1995), Krisis Lingkungan dan Solusi Ilmu (Berita Oikumene No. 263), Meramu Makanan Dari Laut (Jurnal Setia Nomor I/1997), Tata Cara Ibadah Paskah Masyarakat Laut (Jurnal Setia Nomor I/1997), Pokok-pokok Pikiran tentang Agama para Pengecer dan Pialang (1997), Injil dan Kebudayaan-kebudayaan (1997), Nepotisme (1997), Max Weber dan Etika Kerja (1997), Catatan Mengenai Bentuk dan Isi Pemahaman Iman Gereja (1997), Peladang Berpindah, Menggugat Asap. (Suara Pembaruan, 20 Oktober 1997), Transmigrasi Swakarsa Mandiri (Suara Pembaruan, 3 Juni 1997), Nepotisme di Cook Island (Suara Pembaruan, 2 Maret 1997), Dua Proyek Lapangan: Menuju Satu Analisis Sosial (1996), Masyarakat Indonesia Majemuk: Tinjauan Agama dan Budaya Serta Antisipasi Kedepan (1996), A Guide to People and Languages in Nusa Tenggara. Seri Paradigma B-1. (Artha Wacana Press), Pembangunan Dalam Kawasan Rentan Bencana (Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke XI dan Wisuda Sarjana dan Diploma UKAW, 4 September 1996), Feodalisme di Kanaan (Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke XI dan Wisuda Sarjana dan Diploma UKAW, 9 Februari 1984).
Hingga akhir hidupnya, om Tom masih menjabat sebagai Ketua LSM Alfa Omega (sejak 1998), Ketua LSM Bina Tani Mandiri (sejak 1997), Ketua Program Dewan Kesenian Kupang (sejak 1997), Ketua Yayasan Artha Wacana Press (sejak 1996), Anggota Masyarakat Sejarah Indonesia (sejak 1996), Anggota Asosiasi Antropologi Indonesia (sejak 1996), anggota Jaringan Masyarakat Adat NTT (sejak 2000).
Suara Hati dari Seberang Laut for Tom Therik oleh Prof.Dr. James J. Fox, (Australian National University)
Tom, my brother
Let me speak to you softly
Let me whisper to you gently
Sudah saya kenal kamu lama
Pertama, sebagai orang baru
Lantas sebagai murid teladan
Kemudian sebagai kawan kerja
Dan peneliti istimewa
Tetapi selalu sebagai saudara sehati
Teman tanpa pamrih
Besak ia
Nai faik ia dalen,
Ma ledo ia tein.
O sanga diku-dua,
Ma o sanga masafali
Tehuu neda masaneneda,
Ma ndele masandendele.
Tetun ta nai batu-poik
Ma teman ta nai dae-bafok.
Sa lepa-lai nunun,
Nunu ma ba’e faluk.
Ma Huak Lali-Ha kekan,
Keka ma ndana siok.
Musik ndana neu lain,
Ma ba’e neu ata.
Dae sodak nai ndia.
Ma oe molik nai na.
Fo o hapi soda sio,
Ma o hapu mole falu.
Ma dua lolo ei,
Ma kala ifa lima.
Fo ifa limam no limam,
Ma lolo eim no eim.
May you rest
In the bosom of the Lord
And remain
In the sight of his Great Glory
Ringkasan/tujuan bahasa bini dari Rote (bukan terjemahan):
Siang-malam lu coca-coba ko kambali
Ma inga, te di ini dunia sonde dapa dia pung langkap
Cuma di Tuhan pung tangan sa ada dia pung sampurna
Di atas, baru dapa idop yang batul
Di langit, baru dapa salamat yang langkap
Di sana, sorong kaki deng lipat tangan
Ko barenti cape su
Kesaksian tentang Om Tom oleh Marthen L. Ndoen, S.E.,M.A.,Ph.D (Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga)
"Om Thom telah pergi untuk selama lamanya." Itulah sms yang saya terima dari Wilson Therik sesaat setelah om Thom meninggal. Setelah mendengar kabar duka tersebut saya langsung duduk hampir satu jam merenung kembali saat bersama om Thom dberdiskusi di rumahnya ketika berkunjung ke Kupang. Om Thom adalah sosok ilmuan sejati yang saya kenal selalu menghindari gaya hidup selebritis. Dalam keseharian beliau berpakaian sederhana. Saya belum pernah melihat om Thom memakai dasi dan jas. Om Thom bergaul dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Dia tidak pernah mengambil jarak dengan orang kecil pun. Saya pernah dengan Om Thom pergi dengan mobilnya dan tiba tiba berhenti karena hanya mau menyapa seorang bapak tua yang memikul kayu. Ternyata om Thom sudah kenal dengan bapak itu tapi sudah lama tidak ketemu sehingga dia berhenti hanya untuk memberi salam. Saya langsung sadar bahwa om Thom tidak membeda bedakan orang walaupun beliau adalah ilmuan terpandang di NTT.
Om Thom adalah pemikir yang memadukan antara penelitian lapangan dan imajinasi. Saya selalu menikmati berdiskusi dengan beliau karena pikiran-pikiran yang dilontarkan selalu orsinil. Bagi om Thom berteori dari lapangan adalah latihan berpikir tapi lebih dari itu pemahaman lapangan akan dapat menolong banyak orang. Hal ini telah dilakukan dengan banyak mendatangkan proyek ke wilayah yang pernah ditelitinya. Sayang sekali orang sekaliber om Thom, semasa hidupnya, kurang dimanfaatkan perguruan tinggi di Kupang. Ini merupakan suatu kerugian besar, karena orang sekaliber om Thom kemudian banyak dimanfaatkan ANU. Memang om Thom semasa hidupnya adalah "independent researcher". Om Thom tidak bernaung dengan lembaga manapun karena kemampuannya, beliau sudah dipercaya donor melakukan berbagai penelitian. Hanya sedikit orang di NTT yang mendapatkan pengakuan seperti ini.
Ada cukup banyak tawaran untuk om Thom pindah ke Jakarta tapi semuanya ditolak om Thom. Om Thom adalah contoh bahwa orang tidak harus pindah ke Jakarta untuk menjadi ilmuwan handal. Seorang anak daerah pun dapat berkiprah di dunia keilmuan dari daerahnya. Saya harap apa yang dilakukan om Thom dapat menjadi contoh bagi pekerja-pekerja ilmu di NTT.
Selamat jalan om Thom dan saya yakin banyak orang yang pernah mengenal om Thom akan terinspirasi meneruskan cita cita om Thom.
Profesor Anumerta Dr. G. Tom Therik, M.Th
PENDETA Tom Therik (62) telah tiada; ia pergi untuk selama-lamanya; ia berjalan lewat dan tidak pernah kembali. Kini, walau tidak dilihat wajahnya lagi, namun kenangan masih menyimpan seribu satu peristiwa, ketika ia masih bersama kita dalam berbagai pengalaman hidup. Ia telah dipanggil ke rumah Bapak, untuk menghadap Sang Pencipta.
Tulisan ini terbit ketika kujumpai sesosok tubuh yang sudah kaku, lalu kuarahkan pandangan sejenak ke Canberra-Australia beberapa tahun silam, ketika Pdt. Tom berkunjung ke rumah kost-ku di bilangan 42 Stephen St. Ainslie-ACT bersama Dr. Philip Tule SVD.
Di situ kami bertiga bersenda-gurau dan bersilat kata tentang segala tetek bengek yang berkaitan dengan antropologi. Sambung diskusi ilmiah hari itu diteruskan di Canberra Centre diiringi beberapa botol minuman ringan disertai beberapa jenis menu makanan ala bule. Kami sungguh happy! Kini semuanya tinggal kenangan!
Antropolog NTT Telah Tiada
Sehari setelah kepergian Pdt. Tom, segera kuayunkan langkah ke kantor YAPENKAR di sisi selatan UNIKA Widya Mandira Kupang. Terburu-buru kubuka komputer. Mmmmm, ternyata ada banyak
Antara lain Prof. Dr James J Fox yang menulis singkat, padat dan sangat menyentuh sukma tentang kepergian Tom seorang antropolog sejati. Wakil Gubernur Esthon Foenay juga dalam sambutan acara pelepasan, kemarin, di Gereja Bet'el Oesapa mengungkap penuh haru: Masyarakat NTT sungguh-sungguh kehilangan seorang antropolog sejati.
Di mata Prof Fox, Pdt Tom adalah seorang peneliti ulet yang sungguh-sungguh teliti. Disertasi doktoralnya Wehali: The Four Corner Land, the Cosmology and Traditions of Timorese Rituals Centre (1995) benar-benar jadi rebutan para peneliti. Oleh karena karya akademik itu tidak saja menyajikan etnografi, melainkan mengemas sebuah perspektif teori yang sangat modern di bidang antropologi.
Yang khas dari disertasi ini adalah penerapan metode diakronik yang amat cerdik untuk menemukan sebuah pendekatan kualitatif yang tertib aturan. Ia mengkontemplasi keseharian masyarakat sederhana di daerah Betun, Besikama dan sekitarnya (Belu Selatan) lalu menarik satu kesimpulan yang indah menawan mengenai tata krama ritualisme orang-orang desa di kawasan Wesei-Wehali Suai-Kamanasa dengan menarik sebuah perspektif pengertian pada tempat aseli Maromak Oan, Kakuluk Mesak dan Astanara.
Ia tidak saja mengaplikasi sebuah bedah tradisi lisan untuk menemukan akar kehidupan ritualisme Orang Wehali-Wewiku di Belu Selatan, juga tidak semata memeta sebuah sentrum ritus masyarakat pinggiran orang Belu, juga tidak semata meretas sebuah diskusi serius mengenai keaselian suku-suku di wilayah itu, melainkan dengan perkasa memberi landasan fundamental akan kejelian masyarakat desa ketika mempersembahkan ritus kepada para leluhur untuk mencari 'mengapa manusia selalu rindu untuk berjumpa dengan usul-asalnya' .
Masyarakat desa, tulisnya dalam salah satu bagian karyanya mengutip A Hocart Kings and Councillors, an Essay in the Contemporary Anatomy of Human Society (1936) selalu memelihara ritus untuk mengarahkan kehidupannya; yakni tata hidup yang selalu rukun dalam harmoni dengan sesama, lingkungan, leluhur dan Pencipta.
Kini, mantan Rektor UKAW itu menyerahkan diri sepenuhnya dalam tata aturan tersebut; Pdt. Tom sendiri menjadi bahan persembahan yang harum mewangi dan tanpa syarat demi keharuman harmoni tadi.
Ia seorang peneliti yang selalu konsisten untuk menemukan makna baru di balik langkah-langkah merefleksi data dan mengkaji tradisi para leluhur dengan sangat cerdik. Ia tidak terpasung dalam kecenderungan untuk merekayasa data demi tujuan sesaat.
Hasil refleksi dan puncak bedah ilmu yang dilakukannya selalu dapat dipertanggungjawabkan. Ia benar-benar peneliti ulung dengan rasa haus dan lapar akan kebenaran secara ilmiah-metodik, yang ternyata dipelihara dalam kepatuhan ketika memberi argumentasi dalam sebuah 'taat sistemik' serta tulus untuk tunduk pada pola yang rapih.
Ilmuwan Sejati
Selang 9 tahun setelah studi S3, disertasinya terbit dalam bentuk buku berjudul Wehali: The Female Land, Traditions of a Timorese Ritual Centre (2004). Refleksi antropologis yang dipagelarkan Pdt. Tom berpijak pada sebuah tulisan Prof Fox berjudul Our Ancestors Spoke in Pairs: Rotinese Views of Language, Dialect, and Code (1974).
Buku ini tidak saja berisi disertasi doktoral, melainkan juga perluasan kajian yang sungguh mendalam, di mana menempatkan beliau pada posisi yang sangat strategis: tidak saja sebagai peneliti murni, melainkan sebagai seorang pendeta senior yang sedang mengais Kasih Tuhan di dalam hati sesama.
Jika dicermati dengan kerlingan ilmu antropologi gaya sinkronik, Pdt. Tom sebetulnya tidak saja mengagumi gurunya - Prof Fox - melainkan juga para peniliti sebelumnya, antara lain Pdt P. Middelkoop dan antropolog E.G. Traube.
Tom memang pengagum Middelkoop, ketika misalnya mengutip Een studie van het Timoreesche Doodenritueel (1949) mengenai tata krama relasi spiritual Orang Timor dengan para leluhur dan Yang Ilahi.
Kemudian tentang Traube, yang dalam karyanya Cosmology and Social Life, Ritual Exchange Among the Mambai of East Timor (1986), dijadikan Tom sebagai aras refleksi rohani untuk menemukan yang khas pada Masyarakat Timor secara keseluruhan. Ia memadukan
Perilaku seorang antropolog yang selalu terlibat dalam perkara mencari fakta di balik relasi internal antara manusia dan ekologi, dapat disimak dalam karya-karya di atas. Tom sungguh mempersembahkan hidupnya untuk mengkontemplasi hubungan yang selalu digumulinya siang dan malam mengenai makrokosmos (alam-raya), mikrokosmos (manusia), para leluhur dan Yang Ilahi.
Kepeduliannya terhadap antropologi NTT tidak saja terlihat dalam karya-karya sebelumnya, melainkan juga pada terbitan A guide to the people and languages of Nusa Tenggara (1997) yang dikaji bersama teman-teman Charles E Grimes, Barbara Dix Grimes dan Max Jacob. Yang menarik dari terbitan terakhir ini adalah usaha meramu informasi sekitar ethnolinguistik mengenai kawasan Nusa Tenggara (NT) dengan memeta daerah-daerah kawasan NT ke dalam kelompok bahasa-bahasa lokal. Karya ini menjadi modal dasar untuk masuk pintu gerbang berbagai disiplin ilmu dan tidak saja antropologi.
Karya terakhir ini memberi sebuah daftar sangat signifikan dalam perkara bahasa, yang dilengkapi dengan catatan kritis mengenai paralelisme sebagai unsur pokok dari ritus Masyarakat
Pdt. Tom telah pergi. Dia menemukan kembali Pencipta dan Khaliknya. Ia tinggal di
Professor Anumerta
Seorang rekan Pendeta Dr. Nicolas J Woly M.Th serta merta menyambut julukan yang kusampaikan untuk mengenang Pdt. Tom Therik sebagai seorang guru besar ilmu antropologi.
Kata Pdt. Nico, memang kenyataan seperti itu bahwa Pdt. Tom pantas disebut guru besar oleh karena karya-karyanya berupa tulisan dan keterlibatannya di bidang penelitian ilmu dan karya-karya kemanusiaan.
Dalam kesempatan berbeda, Prof. Daniel Kameo Ph.D, menuturkan serius, de facto Pdt. Tom sudah pantas disebut professor oleh karena karya tulis, penelitian dan pengabdiannya bagi masyarakat. Tukasnya, hanyalah de iure, dalam arti urusan administrasi saja untuk mengambil sebutan maha guru.
Tertera dalam lembaran riwayat hidup yang kuterima dari salah seorang staf Local Coordinator for Potensi Laut Project of the Australian Marine Science and Technology, yang dipimpin Pdt. Tom selama dua tahun terakhir, ada banyak sekali kegiatan akademik yang sudah memberi aba-aba akan kedudukan pendeta senior GMIT ini sebagai seorang guru besar antropologi.
Dalam perspektif ilmu, Pdt. Tom telah menyumbang sekian banyak refleksi, telaahan, kajian, bedah masyarakat, studi kearifan lokal dan pelbagai karya di tengah masyarakat. Hidupnya dibaktikan seluruhnya bagi dunia akademik di lingkungan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Ia pernah memberi kuliah pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Maumere dan dosen pembimbing pada STT Jakarta serta yang lainnya.
Ternyata ia tidak saja menjadi guru besar di bidang ilmu, melainkan juga di dalam keluarga dan di antara pergaulan dengan teman-teman. Itu kudengar dari komentar para pelayat yang datang tiada putus ke rumah duka: persis di pinggir pantai Lasiana, pintu masuk di samping Taman Asuhan Sonaf Maneka: rumah di mana kasih sayang dan cinta Tuhan dipelihara dalam hati anak-anak yang tidak memiliki harapan.
Pdt. Tom telah menjadi guru besar yang baik, tidak saja di dalam dunia akademik, melainkan juga bagi kita. Rani si putera sulung yang jebolan S2 New South Wales University of Sydney mengisahkan kebiasaan bapaknya sebagai pencinta ilmu yang tiada henti mencari kebenaran di balik realitas setiap hari. "Bapak selalu mengajarkan kepada kami untuk bekerja keras," katanya terisak tangis yang menawan hati.
Hidup untuk Sesama dan Tuhan
Tom kelahiran Atambua-Belu ini sangat konsisten dengan temuan dari refleksinya yang paling mendalam akan setiap kemampuan yang telah diterimanya dari Tuhan. Apa yang diterimanya dari Pencipta, ia persembahkan dalam karya-karya membangun sesama.
Suatu waktu ketika sedang ada temu alumni antar semua teman yang pernah belajar di Australia, antara lain The Australian National University (ANU) di Canberra, Flinders University di Adelaide, Monash University di Melbourne, Curtin University di Perth, Charles Darwin University di Darwin dan yang lainnya, maka sepakatlah kami membentuk 'kelompok pelayanan' di antara alumni.
Melalui kelompok seperti ini ia senantiasa memberi masukan untuk tetap setia melayani, taat memberi respek kepada orang lain, tiada henti membantu sesama. Sosok hamba Allah yang menyelesaikan studi S 2 pada The University of Sydney (1983) ini selalu mendorong teman-teman untuk terlibat dalam network yang bermanfaat untuk membantu sesama dalam perspektif mengabdi Tuhan Pencipta. Itu seirama dengan apa yang pernah ditulis dalam tesis Mth-nya Old Testament Perspectives on "The Simple People" in the Context of People of west
Apa yang ditulis berupa teks selalu mengalir dari penghayatan akan hidup dan karyanya di antara sesama. Walau ia telah pergi, segala perbuatan baiknya tetap dikenang oleh semua kita yang ditinggalkan. Tom tetap hidup dalam ingatan dan kenangan kita!
Tom sahabatku, terima kasih atas kebersamaan kita; terima kasih atas diskusi kita di bidang ilmu untuk mengembangkan antropologi di kawasan
Artikel ini telah dimuat di Harian Umum POS KUPANG, 27 Maret 2009